Sabtu, 18 Agustus 2012

Konselor Profesional?

Konselor Profesional adalah seseorang yang telah terbekali melalui ilmu psikologi dan konseling.
Seorang Konselor Profesional berbeda dengan Psikolog. Konselor Profesional bukan hanya harus menguasai ilmu Psikologi, baik Psikologi secara mendasar seperti Psikologi Umum, Psikologi Kepribadian, Psikologi Perkembangan, Psikologi Abnormal namun juga harus menguasi tehnik-tehnik konseling secara ahli. Karena mengkonseling klien dengan tingkat permasalahan yang sudah tinggi tidak mudah, memerlukan penguasaan skill yang memadai dan juga jam terbang yang tinggi. Selain itu diperlukan juga kemampuan untuk memegang kode etik profesional konselor secara memadai dan kemampuan membangkitkan rasa percaya klien untuk mau membuka diri sejujurnya demi mendapatkan bantuan untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Konselor Profesional sebaiknya juga sudah terbekali dari pengalaman hidupnya sendiri sehingga dapat memiliki persepektif luas ketika melihat permasalahan yang dihadapi oleh Klien.

Skill yang harus dikuasai dan terasah yang dimiliki oleh Konselor Profesional  dalam praktek Konseling yang dijalani antara lain Verbal Skill, Awareness Body Language Skill, Observation Skill, Building Rapport Skill, Responding Skill, Acceptance Skill, Listening Skill, Reflection Skill, Focusing Skill, Intuitive Skill, Understanding Skill, Emphatic Skill, Analytic Skill, Reframing Skill dan Solving Skill.
Namun diatas segala pengetahuan yang dapat dipelajari secara kognitif, Konselor Profesional yang dapat diandalkan haruslah memiliki KEPEKAAN melalui :
  • Listening (mendengarkan)
  • Emphaty (berempati dengan diri Anda)
  • Understanding (mengerti akan persoalan yang Anda hadapi)
  • Acceptance (penerimaan akan diri Anda secara utuh)
Dan kepekaan itu dapat terasah selain melalui jam terbang Konseling juga melalui pengalaman hidup yang telah dialami oleh Konselor itu sendiri. Konselor yang telah mengalami berbagai asam garam kehidupan akan lebih menguasai berbagai Skill karena tidak hanya sekadar mempelajari tapi juga telah menjalaninya secara pribadi.

sumber 

Rabu, 15 Agustus 2012

Problematika BK di Sekolah

Dalam pelaksanaan BK disekolah tentunya ada saja probleamtika yang ada didalamnya yaitu problamtika internal dan problematika ekternal,oleh karean itu kita akan membahas hal itu satu-satu:
A.      Internal
1.      Bimbingan dan konseling berpusat pada masalah permukaan saja
Latar belakang:
Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dengan melihat gejala-gejala dan keluhan awal yang disampaikan oleh klien. Namun demikian, jika pembahasan masalah itu dilanjutkan, didalami, dan dikembangkan, seringkali ternyata bahwa masalah yang sebenarnya lebih jauh, lebih luas dan lebih pelik bukan apa yang sekedar tampak atau disampaikan itu.ketidak jelian konselor dalam memandang ini yang sering kali membuat layanan konseling diperuntukan untuk masalah permukaan yang timbul saja
Upaya perbaikan:
Usaha pelayanan seharusnya dipusatkan pada masalah yang sebenarnya itu. Konselor tidak boleh terpaku oleh keluahan atau masalah yang pertama disampaikan oleh kien. Konselor harus mampu memahami masalah yang sebenarnya dan mendefinisikan masalah atau identifikasi masalah klien yang sebenarnya.
2.     Guru BK belum begitu mampu mengembangkan profesionalitasnya sebagai konselor sekolah
Latar belakang:
Masih banyakanya siswa yanng belum bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan belum maksimalanya pelaksanaan bk disekolah baik dalam layanan bimbingan maupun pada saat konseli menunjukan rendahaya kemapuan guru bk yang ada deskolah.
Upaya pengentasan
Untuk mengatasi hal tersebut dalam upaya peningkatan profesionalitas guru BK tentunya dapat dilakukan dengan mengikuti seminar,work shop yang membahan pengetahuan tentang bimbingan konseling dan kegiatan lain yang berkenaan dengan bimbingan konseling.
3.      Keterbatasan waktu dalam memberi layanan BK  
Latar belakang:
Rasio 1 guru bk dengan peserta didik yang diatasa sekitar 1:150 sehingga bila disekolah hanya ada  dua guru bk berarti hanya mampu mengangani sekitar 300 peserata didik sedangakan satu sekolahan  terkadang memiliki siswa lebih dari 600 sealain hal itu pelaksaan BK hanya diberikan waktu pada jam istirahat atau pada saat jam mata pelajaran bk dari hal itu apakah cukup dengan perbandingan rasio dan jumlah konselor sudah cukup untuk melaksanakan bimbingan dan konseling?tentunya secara nalar kita akan menjawab ”tidak”.
Upaya pengetasan:
Dalam masalah ini upaya yang bisa dilakukan untuk hal tersebut konselor bisa melakukan bimbingan kelompok sehingga konselor bisa memabntu konseli untuk menenukan solusi sendiri, mengambil keputusan, sehingga banyak waktu yang sanagat sedikit itu dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan optimal
4.      Keterbatasan informasi yang diberikan dalam memberikan layanan BK
latar belakang
kurang maksimalnya pemberian layanan bimbingan dan konseling disekolah terutama pada saat pemberian layanan BK,terkadang layanan BK yang diberikan oleh konselor belum bisa menjawab indicator yang diperlukan oleh peserta didi dan kebutuhan peserta didik pada saat itu.
Upaya pengentasa:
Upaya yang seharusnya dilakukan oleh konselor agar bisa untuk mengatasi permasalahan tersebut konselor bisa mencari reverensi dibuku baik perpustakaan atau di internet sehingga layanan bimbingan pemberian informasi bisa terlaksanana dengan baik dan yang terpenting  bisa menjawab indicator yang diperlukan siswa.
5.      Kuranganya dukungan dari sistem yang ada disekolah
Latar belakang:
Kurang maksimalnya guru bk atau konselor sekolah dalam berkerja disekolah salah satunya kurang komunikasi antara guru kelas,wali kelas,kepsek dan lain-lain yang masih didalam lingkup sekolah dari hal ini bisa membuat konselor kurang bisa dengan segera dalam memberikan layanan konseling dan mendapat informasi yang cepat mengenai siswa.
Upaya pengentasana:
Konselor bisa menjalin komunikasi yang baik dengan pihak-pihak yang terkait yang ada disekolahan sehingga dengan hal demikian semua sistem bisa bejalan dengan baik dan mendukung proses bk disekolah.
6.      Konselor tidak bisa menyampaikan layanan BK layaknya sebagai seorang konselor.
Latar belakan:
Biasanya Layana BK yang diberikan oleh konselor itu tidak ada melibatkan peserta didik dalam setiap layanannya sehingga ketika konnselor menyampaikan layanan tidak ada bedanya dengan orang yang menyapaikan penyuluhan saja sehingga layanan yang diberikan tidak dapat diserap dengan baik karean bersifat satu arah (hanya konselor yang berbicara) tanpa melibatakan peserta didik
Solusi:
Dalam menypaikan setiap layanan BK hendak nya konselor selalu melibatkan peserta didik sebagai bagian dari pemberian layanan artinya peserta didik dibuat aktif dalam setiap pemberian layanan bimbingan sehingga setiap layanan yang diberikan akan lebih bermakna karena peserta didik turut serta menjadi bagian dari pemberian layanan,untuk bisa membuat hal ini terwujud hendaknya seorang konselor biasa menumbukan dinamika kelompok dalam setiap layanan yang diberikan dan untuk menumbuhkan dinamika kelompok itu konselor harus sering berlatih.
7.      Tidak tersedia bank data (data jenis-jenis perkerjaan)
Latar belakang:
Bingungnya konselor dalam memberikan layanan terutama dalam jenis layanan karir hal ini disebabkan bank data tidak tersedia dengan baik bahkan saat ini dinas pendidikan dan depnaker juga tidak memiliki bank data padahal kalo di negri paman sham bank data disana tersedia dengan baik.
Solusi:
Untuk penyelesaian hal ini tentunya mulai saat harus bisa mengumpulan sedikit demi sedikit data tentang jenis pekerjaan sehingga akhirnya bisa terkumpul lebih banyak dan hal ini tentunya bisa dilakukan oleh semua konselor bahaka bisa melibtakan peserta didik atau mahasiswa jurusan BK untuk bisa membantu dalam melengkapi bank data tersbut.
8.      Konselor sering tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan pesrta didik
Latarbelakang:
Gamabaran konselor yang sangat killer membuat siswa sering menghindar apabila bertemu dan berpapasan dengan konselor sekolah ditmabah lagi sangat minimnya waktu tatap muka anatara konselor dan peserta didik diman konseor hanya masuk satu kali dalam 1 minggu itu dengan waktu yang sangat minim dari hal ini yang bisa membuat salah satu factor mengapa konselor kurang  bisa mejadi mitra atau teman bagi setiap pesrta didik yang ada disekolah hal ini bisa ditambah dengan sifat konselor yang sanagat dingin terhadap dengan harapan peserta didik menjadi segan terhadap konselor.
Solusi:
Menjadi konselor harus bisa menjadi mitra peserta didik bukannya menimbulkan jarak hal ini salah satu cara yang bisa dilakukan:
a.      Konselor harus bersikap ramah
b.      Konselor membuang image killer
c.       Mempunyai ketulusan
d.      Penerimaan tanpa syarat terhadap semua peserta didik
e.      Menumbuhkan sikap empati.
Dengan konselor sekolah melakukan hal sperti diatas maka peserta didik akan lamabat laun akan bisa mendekat dengan atau konselor akan lebih mudah mendekat dengan peserta didik dengan ha demikian kita akan mudah melakukan tugas kita sebagai konselor karena telah terjalin hubungan yang baik dan pesertadidik akan lebih cenderung terbuka dengan konselor tentang apa yang sedang dialami dan konselor bisa dengan cepat melakukan penanganan terhadap permsalahan yang sedang dihadapi oleh siswa dan cenderung peserta  didik yang dengan suka rela akan menemui konselor.
9.      Berkerja dibawah tekanan
Latarbelakang:
Ketidak berdayaan konselor dibanding dengan kekuasan kepala sekolah yang terkadang menggap BK sebagai bagian dari pengajaraan sehingga dengan keterpaksaan konselor mengajar dalam mata pelajaran yang itu merupakaan bukan dari bidang keahliannya dan hal ini diperkeruh dengan UU no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan yang semakin membunuh tugas konselor memnadirikan mejadi mengajar.
solusi :
untuk mengatasi hal tersebut sangat lah sulit akan tetapi sa;ah satu cara unutk mengatsi hal tersbut konselor harus bisa mejelaskan funngsi, tugas, peran seorang konselor sekolah dengan harapan pihak sekolah dapat mengerti tugas konselor sesungguhnya dan tentunta disertai sikap tegas seorang konselor dalam sertiap kebijkakan yang dilauar fungsi, peran, tugas konselor.
B.      Ekternal 
1.      Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
Latar belakang:
Masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah. Anggapan ini mengatakan ”barangsiapa diantara siswa-siswa melanggar peraturan dan disiplin sekolah harus berurusan dengan konselor”. Tidak jarang pula konselor sekolah diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Konselor ditugaskan mencari siswa yang bersalah dan diberi wewenang untuk mengambil tindakan bagi siswa-siswa yang bersalah itu (cenderung menghukum siswa yang bermasalah) . Konselor didorong untuk mencari bukti-bukti atau berusaha agar siswa mengaku bahwa ia telah berbuat sesuatu yang tidak pada tempatnya .
Upaya perbaikan:
Berdasarkan pandangan di atas, adalah wajar bila siswa tidak mau datang kepada konselor karena menganggap bahwa dengan datang kepada konselor berarti menunjukkan aib, ia telah berbuat salah, atau predikat-predikat negative lainnya. Padahal sebaliknya, dari segenap anggapan yang merugikan itu, di sekolah konselor haruslah menjadi teman dan kepercayaan siswa. Disamping petugas-petugas lainnya di sekolah, konselor hendaknya menjadi tempat pencurahan kepentingan siswa, apa yang terasa di hati dan terpikirkan oleh siswa. Petugas bimbingan dan konseling bukanlah pengawas atau polisi yang selalu mencurigai dan akan menangkap siapa saja yang bersalah. Petugas bimbingan dan konseling adalah kawan pengiring petunjuk jalan, pembangun kekuatan, dan Pembina tingkah laku positif yang dikehendaki. Petugas bimbingan dankonseling hendaknya bisa menjadi konselor pengayom bagi siapa pun yang dating kepadanya. Dengan pandangan, sikap, ketrampilan, dan penampilan konselor siswa atau siapapun yang berhubungan dengan konsellor akan memperoleh suasana nyaman.
2.      Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat
Latar belakang:
Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Akan tetapi terkadang di sekolah konselor bukanlah orang yang benar-benar professional sehingga pada saat proses konseling terkesan hanya memberikan nasehat bukan memabatu konseli dalam menentukan keputusan,solusi terhdap masalahanya dan memandirikan
Upaya perbaikan:
Konselor juga harus melakukan upaya-upaya tindak lanjut serta mensinkronisasikan upaya yang satiu dan upaya lainnya sehingga keseluruhan upaya itu menjadi suatu rangkaian yang terpadu dan bersinambungan dan memahami teknik-teknik konseling sehingga pada saat proses konseling tidak menjadi memberi nasehat.
3.      Bimbingan dan Konseling hanya untuk orang yang bermasalah saja
Latar belakang:
Sebagian orang berpandangan bahwa BK itu ada karena adanya masalah, jika tidak ada maka BK tidak diperlukan, dan BK itu diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah saja. Memang tidak dipungkiri bahwa salah satu tugas utama bimbingan dan konseling adalah untuk membantu dalam menyelesaikan masalah. Tetapi sebenarnya juga peranan BK itu sendiri adalah melakukan tindakan preventif agar masalah tidak timbul dan antisipasi agar ketika masalah yang sewaktu-waktu datang tidak berkembang menjadi masalah yang besar.
Upaya perbaikan:
Seharusnya konselor selalu mengamati semua siswa baik yang memiliki masalah atau yang tidak bermasalah untuk menghindari anggapan tersebut hendaknya konselor selalu melaksana fungsi bimbingan preventif untuk menimimalisir anggapan tersebut sehuingga dengan demikian sebelum ada masalah BK sudah muncul (layanan bimbingan).
4.      Layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
Latar  belakang:
Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Jawaban ”benar”, jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Sedangkan jawaban ”tidak”.Hal ini didasarai pada masalah yang talah kami kemukakan kami terkdang pada pelaksanaan bimingan konseling itu banyak berupa nasehat dan nasehat itu bisa diberikan oleh siapa saja.
Upaya perbaikan ;
jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi, serta pengalaman-pengalaman tentunya bila hal itu dilaksanakan anggapan bimbingan dapat diberikan olah  siapa saja tentunnya akan berubah.

Seberapa Pentingkah Guru BK di Sekolah?

Mengapa takut konseling ?
Dari jaman saya sekolah dulu (tahun 90-an.. lama amat ya?) hingga kini, mengapa ya anak-anak cenderung memilih tidak curhat pada guru BKnya ?
Guru bimbingan konseling adalah guru yang memiliki tugas, tanggungjawab, dan wewenang dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap siswanya. Hal ini terkait juga dengan pengembangan diri siswa baik pelayanan terhadap kebutuhannya, potensi, bakat yang dimiliki, minat, serta kepribadian mereka.

Dulu, sebagai siswa tentu saja saya tidak tahu tugas guru bimbingan konseling itu seperti apa. Setahu saya, guru-guru ini hanya akan memanggil siswa yang sedang mempunyai masalah. Entah itu pelanggaran kedisiplinan dan tata tertib, nilai jelek, bahkan uang bayaran yang nunggak. Beneran, saya tidak tahu manfaat guru BK buat saya.

Jadi, siapapun yang masuk ke ruangan BK, tentu saja saya dan hampir semua siswa pada saat itu akan beranggapan bahwa dia sedang punya masalah. Cap yang biasa ditempel adalah : Anak Bandel !
Jaman sudah lama berlalu, sampai akhirnya saya menjadi guru. Dan tahu tidak, kebanyakan siswa sekarangpun masih sama dengan siswa tempo doeloe..enggan menemui guru BK. Apakah karena alasannya masih sama?

Yuk, kita tengok sejenak :
Pertama, hampir separuh siswa masih berfikiran bahwa guru BK hanya untuk siswa bermasalah. Tidak bisa disalahkan memang, kerena siswa yang masuk ke arsip BK kebanyakan adalah siswa yang memang membutuhkan pelayanan konseling yang sifatnya mendesak. Padahal, guru BK seharusnya mempunyai pelayanan yang kurang lebih sama terhadap siswa-siswa yang tidak bermasalah sekalipun karena mereka juga membutuhkan bimbingan. Berdasarkan pengalaman mengajar, siswa yang bermasalah berat diawali dengan masalah-masalah kecil yang tidak terselesaikan.

Kedua, siswa kebanyakan tidak tahu fungsi dan manfaat keberadaan guru BK di sekolah selain upayanya membantu menyelesaikan masalah.

Ketiga, jumlah guru BK sangat minim. Ini berdasarkan pemantauan saya pada beberapa sekolah terutama swasta, di mana jumlahnya yang tidak proporsional dengan jumlah siswa. Bahkan di sekolah-sekolah swasta kecil, ada yang malah tidak memiliki guru BK.

Dalam blognya, Ahmad Sudrajat menuliskan bahwa beban kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas untuk layanan klasikal dan/atau di luar kelas untuk layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Sedangkan beban kerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah membimbing 40 (empat puluh) peserta didik dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah/madrasah membimbing 80 (delapan puluh) peserta didik.

Artinya, sekolah yang kekurangan guru BK akan sangat kesulitan mengatur jadwal bimbingan dan layanan individual. Biasanya, hanya memberikan layanan klasikal dalam bentuk ceramah di kelas. Hal ini memungkinkan pemunculan potensi, bakat, dan minat siswa tidak akan bisa dilaksanakan karena perhatian terhadap siswa secara individual terbengkalai. Sehingga,  penyelesaian masalahpun kerap tidak bisa dilakukan. Jadilah, masalah-masalah siswa menumpuk menjadi karakter yang tak diinginkan, semisal mencuri, membangkang,  gagal berprestasi, dan sebagainya.

Seberapa Pentingkah Guru BK di sekolah ?
Keberadaan guru BK / konselor tentu saja penting karena banyak aspek dari diri siswa yang perlu dikembangkan.Aspek-aspekpengembangan tersebut meliputi :
  • Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa memahami serta mampu  menilai bakat dan minatnya sendiri
  • Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
  • Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan di  sekolah secara mandiri.
  • Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

Sri Mugi Rahayu, Guru

Person Centered Counseling Carl Rogers

Dikemukakan oleh Carl R.Rogers. Dasar teorinya adalah campur tangan seseorang dalam melakukan aktualisasi diri. Untuk melakukan aktualisasi diri adalah seseorang harus memiliki kebebasan bergerak. selama proses dan teknik yang digunakan dalam konseling. Menurut Rogers, setiap orang adalah unik dan memilki kemampuan tersendiri untuk menggapai potensi secara penuh. Esensi konsep dasar manusia adalah rasional, konstruktif, positif, independen, realistis, kooperatif, dapat dipercaya, dapat diterima, melangkah lebih jauh dan potensial.

PROSES KONSELING

fokus utamanya menekankan pengalaman yang dirasakan oleh klien. Pada awal proses konseling tidak difokuskan pada masalah, tujuan dan prilaku.

PERSPEKTIF KLIEN

Pada tahap konseling, klien menunjukkan variasi sikap, perasaan dan karakteristik. Klien mungkin ; meragukan konselor, tidak mengekspresikan pengalaman dalam hidup yang mereka rasakan, tidak menyadari sikap dan maksud dari pengalaman mereka, evaluasi mereka tentang perilaku, sikap dan perasaan mereka berorientasi terhadap kode-kode sosial, nasehat moral,dll, menunjukkan perilaku negatif yang overt maupun covert, sulit menerima tanggung jawab untuk diri mereka sendiri, sulit memisahkan objek dari pengalaman, perasaan dan kenyataan atau sulit mungkin mnegekspresikan diri. Namun selama proses konseling, sikap, persepsi mereka bergerak secara kontinum yang ditunjukkan oleh kurangnya rasa takut terhadap proses konseling, mulai terbuka dalam berkomunikasi, menyadari pengalaman batin, mengurangi perasaan negatif, kecemasan dll.

PERSPEKTIF KONSELOR

Apabila konseling bisa dilakukan secara optimal oleh klien, maka konselor akan; merasakan kebebasan, menunjukkan harapan yang sama oleh klien, menentukan nilai-nilai yang standar terhadap klien, berusaha untuk jujur dalam menjalin hubungan dengan klien, melakukan komunikasi empati, dlll.

KONDISI PERTUMBUHAN

Ada tiga kondisi utama untuk mengembangkan pertumbuhan psikologi yakni;
1. Ketulusan ; yang terpenting dalam ketulusan adalah transparan yakni tidak ada yang ditutup-tutupi mengenai apa dan bagaimana seorang konselor.
2. Unconditional positive regard ; pada saat tertentu konselor merasa perlu untuk menerima berbagai bentu ungkapan perasaan dari klien misalnya rasa takut, marah dsb, perhatian adalah sikap penuh kepedulian dan kerjasama dalam usaha menolong klien.konselor dapat menunjukkan penghargaan yang positif bagi klien tanpa syarat apapun.

3. Pemahaman empati ; suatu pengertian yang mendalam dan akurat terhadap diri dan masalah klien.

STRATEGI UNTUK MEMBANTU KLIEN

Ada tiga tahap penting yakni tahap awal, inti dan tahap akhir. Seberapa banyak perubahan yang dialami oleh klien tergantung pada skill atau kemampuan konselor serta kualitas proses terapi khususnya interaksi personal antara klien dan konselor.

Fasilitas pemahaman empati ;
Attending ; perhatian konselor tehadap klien meliputi sikap dan skill. Efektif tidaknya konselor bergantung pada kemampuannya untuk memfokuskan perhatian terhadap klien tanpa menghilangkan atau mengorbankan identitas dan karakteristik dirinya sendiri. Teknik ini didasarkan bahwa klien adalah sumber informasi terbaik bagi pemecahan masalahnya.

Pemahaman empati melalui komunikasi verbal ; konselor berusaha memahami ‘frame of reference’ klien melalui pikiran, perasaan dan hal-hal yang dieksplorasikan klien sehubungan dengan masalah pribadinya.

Pemahaman empatik melalui komunikasi secara nonverbal

Sikap diam merupakan jalan dari pemahaman komunikasi secara empati

KETULUSAN DALAM BERKOMUNIKASI

Komunikasi keaslian meliputi : kebebasan dari peran, spontanitas, non defensiveness, konsistensi, pembagian diri.

KONTRIBUSI DARI SISTEM PERSON CENTERED

Dapat dipakai untuk berbagai jenis bantuan sesuai situasi dan tempat seperti konseling inividu, keluarga ataupun kelompok. Selain itu, konselor secara sadar menghindari untuk mengambil tanggung jawab saat klien akan mengambil keputusan. Bagaimanapun klien harus menyadari bahwa mereka bertanggung jawab untuk membuat keputusan dan konsekuensi yang mungkin menghasilkan suatu kekuatan pribadi.

KELEMAHAN SISTEM PERSON-CENTERED

Kelemahan mendasarnya bukan karena kekurangan teori melainkan pengaplikasiannya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money